KUPASnews.com – Di ujung barat Indonesia, sebuah pulau kecil bernama Enggano menyimpan cerita tentang pembangunan yang bergerak maju dengan semangat gotong royong. 

Di sini, Desa Kaana tidak hanya berjuang melawan tantangan geografis, tetapi juga menciptakan terobosan melalui kolaborasi digital, ketahanan pangan, dan pendidikan.

Dua puluh kader duta digital desa cerdas dari berbagai pelosok Indonesia berkumpul di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) penguatan kapasitas teknologi informasi. 

Salah satunya adalah perwakilan dari Desa Kaana, Kecamatan Enggano—sebuah desa terpencil di lepas pantai Bengkulu yang kini mulai membuka diri terhadap transformasi digital.

“Kami ingin masyarakat Enggano tidak tertinggal. Dengan pelatihan ini, kami akan kembangkan sistem informasi desa, pemasaran produk lokal secara digital, dan layanan administrasi berbasis online,” ujar Alamudin, Kepala Desa Kaana, saat dihubungi via telepon. Rabu (7/5/2025)

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) untuk mempercepat pemerataan teknologi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Selain digitalisasi, Desa Kaana juga fokus pada penguatan ketahanan pangan. Sebagai pulau kecil, Enggano rentan terhadap krisis logistik akibat keterbatasan akses transportasi. 

Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Provinsi Bengkulu menggandeng TNI dan masyarakat dalam program intensifikasi pertanian.

“Kami menyinergikan tiga unsur, pemerintah provinsi menyediakan pendanaan, TNI membantu pelatihan dan pendampingan, sementara masyarakat menggarap lahan secara kolektif,” jelas Alamudin.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Desa Kaana membagikan bibit unggul dan racun rumput yang bersumber dari Dana Desa (DD) kepada petani lokal. 

“Dulu banyak lahan yang tidak produktif karena serangan hama. Sekarang, dengan bantuan ini, produksi padi dan jagung meningkat signifikan,” tambahnya.

Pembangunan desa tidak hanya tentang infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga sumber daya manusia. 

Menyadari pentingnya pendidikan, Pemerintah Desa Kaana menyalurkan bantuan alat tulis kepada siswa-siswi dari keluarga kurang mampu.

“Kami ingin memastikan tidak ada anak di Kaana yang putus sekolah hanya karena tidak mampu beli buku atau pensil. Ini investasi jangka panjang untuk masa depan desa,” tegas Alamudin.

Meski progres terlihat, tantangan tetap ada. Keterisolasian geografis Enggano membuat distribusi barang sering terkendala. Selain itu, sumber daya manusia yang terbatas membutuhkan pendampingan lebih intensif.

“Kami berharap pemerintah pusat terus mendukung desa-desa seperti kami, bukan hanya dengan dana, tetapi juga dengan pendampingan berkelanjutan,” harap Alamudin.***