KUPASnews.com – Di pesisir selatan Pulau Jawa, di tepian antara samudra dan daratan, cerita tentang Nyi Roro Kidul masih bergema — bukan hanya sebagai kisah horor malam hari, tetapi sebagai warisan budaya yang melibatkan alam, kekuasaan spiritual, dan relasi manusia dengan lautan.
Sosoknya—mulai dari putri diraja hingga ratu laut—menjadi wujud simbol dari kekuatan gaib yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Legenda Nyi Roro Kidul memiliki banyak varian, namun ada benang merah yang menembus narasi‐nya. Ia adalah sosok perempuan yang melalui kondisi tragis atau pengasingan lalu berubah menjadi penguasa lautan selatan.
Dalam salah satu versi yang banyak dirujuk, ia adalah Dewi Kadita, putri dari Kerajaan Pajajaran (Sunda), yang karena intrik atau kutukan akhirnya terbuang ke laut selatan hingga berubah menjadi Nyi Roro Kidul.
Kajian antropologis menyebutnya sebagai hasil sinergi antara animisme tradisional laut selatan, pengaruh Hindu‐Buddha, dan integrasi Islam Jawa—sehingga figur ratu laut ini menjadi simbol yang kompleks dalam budaya Jawa dan Sunda.
Lebih jauh, dalam tulisan oleh Jordaan (1984) disebut bahwa legenda ini sudah tertulis dalam kronik keraton dan menjadi bagian dari legitimasi kekuasaan kerajaan‐kerajaan Jawa.
Simbolisme dan makna: antara darat, laut, dan kekuasaan
Menurut penelitian lapangan di wilayah Puger, Jawa Timur, sosok Nyi Roro Kidul tidak hanya diyakini sebagai “ratu” laut, tetapi juga sebagai intervensi spiritual dalam kehidupan nelayan, raja, dan masyarakat pesisir.
Beberapa aspek kulturalnya antara lain: Wujud yang sering digambarkan mengenakan pakaian hijau—warna yang kemudian diyakini “kepunyaan” beliau. Masyarakat pesisir pun memiliki larangan memakai warna hijau agar tidak “tertarik” ke laut olehnya.
Kontrol atas badai dan ombak: Karena posisinya di samudra, ia dipercaya memiliki kekuatan mengatur gelombang, ombak atau bahkan tragedi laut—menjadi bentuk penghormatan sekaligus peringatan bagi manusia agar menjaga keseimbangan dengan alam laut.
Relasi kerajaan laut‐darat: Dalam sistem kerajaan Jawa, terdapat mitos bahwa para Sultan memiliki hubungan spiritual dengan Nyi Roro Kidul sebagai pelindung dari selatan—ini menunjukkan ia adalah jembatan antara kekuasaan kerajaan dan kekuasaan gaib.
Praktik ritual & tradisi kontemporer
Kehidupan sehari‐hari masyarakat pesisir selatan Jawa masih dipenuhi jejak‐jejak budaya yang terkait dengan Nyi Roro Kidul. Di antaranya:
Upacara labuhan: Ritual sedekah laut yang dilakukan di beberapa pantai selatan sebagai bentuk penghormatan kepada ratu laut dan permohonan keselamatan.
Pantangan memakai hijau: Turis dan warga lokal yang berada di pantai selatan sering diberi peringatan untuk tidak mengenakan pakaian hijau—karena dipercayai bisa “membawa undangan” ke laut.
Kutip‐kutip penguasa laut dalam budaya populer: Misalnya, kamar 308 di hotel Samudra Beach, Pelabuhan Ratu, yang dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul—contoh bagaimana mitos menyatu dengan pariwisata.
Meski sosok ini paling sering disambungkan dengan pantai‐selatan Jawa (Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Sunda Barat), varian regionalnya memperkaya makna mitos.
Beberapa studi menyebut: Version Sunda: Ia adalah putri Kerajaan Pajajaran yang diasingkan kemudian menjadi kekuatan laut selatan.
Versi Jawa Tengah/Timur: Ia terkait dengan kerajaan Mataram, dan mempunyai hubungan dengan Sultan‐sultan sebagai “pasangan gaib”.
Dalam kajian media dan budaya populer: Representasi Nyi Roro Kidul menjadi tokoh horor, ikon pariwisata mistis, bahkan diadaptasi ke motif batik dan seni kontemporer.
Mengapa Nyi Roro Kidul masih penting hari ini? Karena mitosnya menyentuh banyak bidang: ekologi laut, budaya pesisir, identitas lokal, dan ekonomi pariwisata. Sebagai contoh:
Dengan meningkatnya aktivitas pariwisata di pantai‐selatan, mitos ini menjadi daya tarik sekaligus tantangan—antara menjaga nilai tradisi dan mengeksploitasi untuk profit.
Dari perspektif ekologi, keyakinan terhadap ratu laut dapat menjadi modal sosial untuk kampanye pelestarian laut dan kesadaran terhadap bahaya laut (ombak besar, badai). Namun, ada juga sisi yang problematis: jika mitos itu menghambat penanganan risiko nyata (misalnya korban ombak, keselamatan nelayan) atau dipakai sebagai “penjelasan gampang” atas tragedi laut.
Pesan yang tersirat: antara alam, kekuasaan, dan manusia
Legenda Nyi Roro Kidul mengajarkan beberapa hal: Hidup manusia tak bisa dilepaskan dari alam yang lebih besar—laut bukan sekadar latar belakang tetapi punya “nyawa” dalam budaya pesisir Jawa. Kekuasaan (politik, kerajaan, spiritual) berhadapan dengan simbol‐simbol gaib—menunjukkan bahwa struktur sosial manusia selalu dikaitkan dengan dunia yang tak terlihat.
Tradisi dan mitos bukan sekadar cerita lama—mereka menjadi medium pembelajaran, pengingat agar manusia tidak lalai menghormati alam dan kekuatan yang lebih besar.
Nyi Roro Kidul bukan sekadar “hantu pantai selatan”—ia adalah tokoh budaya yang berdiri di persimpangan mitos, sejarah, dan kenyataan sosial. Dari kebisingan ombak hingga ritual sedekah laut, dari kain hijau yang dilarang hingga motif batik yang terinspirasi legenda, jejaknya tetap ada.
Ketika kita membaca kisahnya dengan mata kontemporer, bukan hanya bulu kuduk yang berdiri—melainkan pemahaman tentang bagaimana manusia membangun relasi dengan laut, kekuasaan, dan gaib.***
