KUPASnews.com – Di Kecamatan Marga Sakti Sebelat, ada jalur sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer oleh warga Desa Suka Baru dan Suka Makmur disebut sebagai “jalur penderitaan”.
Jalan lintas yang seharusnya menjadi nadi penghubung menuju pusat pemerintahan kecamatan, Kantor Camat Marga Sakti Sebelat, Bengkulu Utara kini telah bertransformasi menjadi momok yang mengancam kesehatan dan perekonomian warga.
Jalur ini telah rusak parah. Lubang-lubang besar menganga di musim hujan, menciptakan pemandangan layaknya “kubangan kerbau” yang mustahil dilewati dengan nyaman.
Namun, penderitaan tidak berhenti di situ. Saat musim kemarau tiba, lubang yang sama akan menyisakan hamparan debu tebal, beterbangan dan mengganggu kesehatan pernapasan warga yang melintas.
Kondisi jalan ini, kata Ibnu Majah, Amd, Kom, Sekretaris Presidium Pemekaran Kecamatan Marga Sakti Sebelat, bukanlah masalah baru. Kerusakan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, menyeberangi batas waktu dan pergantian kepemimpinan daerah.
“Bertahun-tahun jalan lintas Desa Suka Baru menuju Kantor Camat Marga Sakti Sebelat mengalami kerusakan cukup parah. Padahal setiap Musrenbangcam (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan) selalu diusulkan perehapan, namun tidak pernah direalisasikan,” ujar Majah dengan nada kecewa, Senin (24/11/2025).
Usulan warga seolah menjadi “usulan abadi” yang selalu dicatat di meja perencanaan, namun tak pernah berpindah ke daftar eksekusi. Bagi Majah, sikap Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara dan dinas terkait ini seolah “tutup mata” terhadap keluhan yang dibawa warga setiap tahunnya.
Kisah jalan rusak ini juga menjadi catatan kelam bagi sejarah kepemimpinan di Bengkulu Utara. Majah menyoroti bahwa kerusakan jalan ini bertahan melintasi tiga era politik besar.
Dimulai setelah pemekaran Kecamatan Marga Sakti Sebelat pada 2015 di era pemerintahan Bupati Imron Rosyadi, kerusakan itu berlanjut hingga dua periode kepemimpinan Bupati Ir. Mian-Arie yang berlangsung selama 10 tahun, dan kini diteruskan di era Bupati Arie-Sumarno.
“Sudah beberapa kali pergantian Bupati atau Pilkada, kondisi jalan tidak kunjung diperbaiki, hanya janji-janji politik ketika membutuhkan suara rakyat,” ungkap Majah.
Jalan ini bukan sekadar jalan alternatif, melainkan satu-satunya akses vital bagi warga yang ingin menuju Pasar Kamis untuk berdagang atau berbelanja, dan yang terpenting, menuju Kantor Camat Marga Sakti Sebelat sebagai pusat administrasi.
Warga kini menaruh harapan besar untuk terus memperjuangkan kondisi jalan tersebut. Dalam keterbatasan informasi dan janji yang selalu menguap, harapan warga kini tertuju pada satu tanggal, tahun anggaran 2026.
“Harapan banyak warga pada tahun anggaran 2026 yang akan datang, link jalan tersebut dapat dibangun pihak pemerintah daerah,” harap Majah.
Saat warga harus kembali berjuang melintasi debu tebal dan kubangan kerbau esok hari, pertanyaan besar tetap menggantung.
Akankah di tahun 2026 nanti, jalan lintas Desa Suka Baru benar-benar akan menjadi prioritas, atau hanya menjadi warisan kerusakan abadi yang diabaikan oleh para pemangku kebijakan?***
