KUPASNEWS.com – Bulan suci Ramadan di Indonesia tak sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Di balik kekhusyukan ibadah, terdapat fenomena sosial kultural yang telah mendarah daging dalam masyarakat Indonesiayakni Ngabuburit.
Tradisi menunggu azan Magrib ini kini telah bertransformasi dari sekadar kebiasaan lokal masyarakat Sunda menjadi identitas nasional yang mempererat kohesi sosial.
Istilah “Ngabuburit” berakar dari bahasa Sunda, yakni ngalantung ngadagoan burit, yang secara harfiah berarti bersantai sembari menunggu waktu sore.
Meski lahir dari tanah Jawa Barat, kepopulerannya melintasi batas geografis.
Tokoh bangsa, mendiang Ahmad Syafii Maarif, dalam karyanya “Ramadhan di Nusantara: Tradisi dan Budaya”, mencatat bahwa Ngabuburit adalah bentuk adaptasi masyarakat dalam menyambut bulan suci dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan.
Spektrum Aktivitas: Ekonomi hingga Religi
Seiring waktu, Ngabuburit berkembang menjadi motor penggerak berbagai sektor seperti fenomena berburu takjil di pasar kaget menciptakan lonjakan pendapatan bagi pedagang lokal.
Kolak, es buah, hingga gorengan menjadi primadona yang menggerakkan roda ekonomi rakyat.
Menjadikan alun-alun, taman, dan pusat perbelanjaan menjadi titik temu bagi keluarga dan kerabat untuk mempererat silaturahmi melalui jalan santai atau sekadar berbincang.
Selain itu, di berbagai pelosok daerah, Ngabuburit tetap terjaga kesakralannya melalui aktivitas tadarus bersama, kajian singkat, dan pengajian di masjid-masjid.
Ngabuburit sejatinya adalah manifestasi nilai luhur Nusantara. Di dalamnya terkandung nilai kebersamaan, pelestarian budaya, dan kegembiraan religius.
Dengan menjaga tradisi ini, masyarakat tidak hanya merayakan aspek kultural, tetapi juga mendukung keberlangsungan ekonomi lokal di tengah kekhusyukan bulan suci.***
