Kupasnews.com, Penyakit dactylogyriasis atau yang lebih dikenal dengan penyakit cacing insang adalah salah satu ancaman serius bagi petani ikan air tawar.
Penyakit ini dapat menyerang ikan kapan saja, mulai dari benih hingga indukan yang sedang dalam proses pembesaran menunggu masa panen.
Serangan cacing insang pada insang ikan dapat mengakibatkan kerusakan serius dan jika tidak ditangani, bisa menyebabkan kematian massal pada ikan, terutama pada kasus infeksi berat.
Gejala dari penyakit ini cukup mudah dikenali. Ikan yang terinfeksi umumnya menunjukkan ciri fisik seperti warna tubuh yang pucat, nafsu makan yang menurun drastis, tubuh yang semakin kurus, serta frekuensi pernapasan yang meningkat.
Selain itu, produksi mukus atau lendir berlebih di insang serta perilaku sering meloncat juga menjadi tanda bahwa ikan terjangkit cacing insang.
Insang ikan yang terinfeksi biasanya tampak pucat atau membengkak hingga menyebabkan operkulum atau penutup insang terbuka, serta ikan cenderung berkumpul di dekat aliran air masuk sebagai bentuk kompensasi terhadap kesulitan bernapas.
Penularan penyakit ini relatif cepat dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi petani ikan.
Namun, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk menangani dan mencegah penyebaran penyakit cacing insang ini.
Berikut adalah beberapa penanganan yang direkomendasikan oleh para ahli:
Mengurangi kadar bahan organik terlarut di dalam air.
Meningkatkan frekuensi pergantian air di kolam atau tambak.
Menjaga kualitas air, khususnya dengan menstabilkan suhu air di atas 29°C.
Mengobati ikan yang terinfeksi dengan perendaman menggunakan beberapa jenis disinfektan.
Disinfektan yang bisa digunakan meliputi:
Larutan garam dapur dengan konsentrasi 100 – 10.000 ppm (disesuaikan dengan jenis dan umur ikan) selama 24 jam.
Larutan kalium permanganat (PK) dengan dosis 4 ppm selama 12 jam.
Larutan formalin dengan dosis 25 – 20 ppm selama 24 jam atau lebih.
Asam asetat glasial dengan konsentrasi 0,5 ml/L, dilakukan perendaman selama 30 detik setiap 2 hari selama 3-4 kali perawatan.
Dengan langkah-langkah penanganan yang tepat, diharapkan petani ikan air tawar dapat mengendalikan penyebaran penyakit ini dan meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan, sehingga produktivitas budidaya ikan air tawar dapat tetap terjaga.***
