KUPASNEWS.com – Bulan Ramadan tahun 8 Hijriyah menjadi saksi sejarah atas sebuah revolusi kemanusiaan yang paling mengagumkan di Jazirah Arab.
Peristiwa Fathu Makkah, atau pembebasan kota Mekkah, bukan hanya sebuah kemenangan militer, melainkan kemenangan moral dan kasih sayang.
Tanpa pertumpahan darah, Nabi Muhammad SAW bersama 10.000 pasukan Muslim berhasil mengembalikan kesucian kota Makkah, sekaligus mempraktikkan pengampunan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peperangan.
Latar belakang peristiwa besar ini bermula dari pelanggaran kaum Quraisy terhadap Perjanjian Hudaibiyah. Kaum Quraisy mengkhianati gencatan senjata dengan menyerang suku Khuza’ah yang merupakan sekutu umat Islam.
Menanggapi ketidakadilan tersebut, Nabi Muhammad SAW memimpin pasukan besar yang terdiri dari kaum Muhajirin, Anshar, dan suku-suku sekutu menuju kota kelahiran beliau.
Meski membawa kekuatan besar, instruksi Nabi sangat jelas: memasuki kota dengan damai dan menghindari konfrontasi fisik sebisa mungkin.
Detik-detik pembebasan berlangsung sangat mengharukan. Nabi Muhammad SAW menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa dengan menundukkan kepala saat memasuki kota.
Beliau memberikan jaminan keamanan bagi siapa pun yang berlindung di rumah Abu Sufyan, masuk ke dalam Masjidil Haram, atau sekadar menutup pintu rumah mereka.
Di hadapan penduduk Makkah yang dahulu menyiksa dan mengusirnya, Nabi justru mendeklarasikan pengampunan umum.
Beliau memilih memaafkan alih-alih membalas dendam, sebuah teladan nyata bahwa kekuatan sejati terletak pada pengendalian diri dan belas kasih.
Puncak dari peristiwa ini adalah pembersihan Ka’bah dari 360 berhala yang selama berabad-abad menutupi kemurnian tauhid.
Sembari menghancurkan simbol-simbol kemusyrikan tersebut, Nabi membacakan firman Allah dari Surah Al-Isra ayat 81 yang menegaskan bahwa kebenaran telah datang dan kebatilan pasti akan musnah.
Peristiwa ini secara resmi mengembalikan Makkah sebagai pusat penyembahan kepada Allah SWT dan menjadi magnet persatuan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Fathu Makkah mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan terbesar tidak diraih dengan pedang, melainkan dengan memenangkan hati manusia. Pengampunan Nabi Muhammad SAW membuka pintu bagi hidayah, di mana tokoh-tokoh besar Quraisy akhirnya memeluk Islam.
Pelajaran abadi dari peristiwa ini adalah pentingnya menjaga janji, mengutamakan perdamaian, dan memaafkan kesalahan sesama sebagai jalan menuju persatuan yang hakiki di bawah naungan iman.***
